ProHaba.co Mobile
home / nanggroe / kutaraja

Cok Siangen di Bawah Payung MRB, Pasangan Mahasiswa Dicambuk

Jumat, 1 Februari 2019 11:11 WIB
BANDA ACEH - Sepasang mahasiswa menjalani prosesi hukuman cambuk, Kamis (31/1) di halaman Masjid Rukoh, Darussalam, Banda Aceh. Mereka dicambuk sebagai ganjaran setelah dipergoki oleh warga saat sedang bermesraan (‘cok siangen’) di bawah payung Masjid Raya Baiturrahman (MRB).

Keduanya yaitu, pria AN (18) warga Gampong Paloh Punti, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, dan pasangan wanitanya, NS (18), warga Gampong Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.

Mereka dicambuk bersamaan dengan pasangan perkara Ikhtilat lainnya yaitu yaitu SR (35) dan pasangan wanitanya MF (40).

Pasangan remaja AN dan NS masing-masing dikenakan sebanyak 17 kali cambukan di hadapan umum. Awalnya mereka divonis 20 kali cambukan oleh majelis hakim, namun setelah dikurangi masa kurungan, keduanya dicambuk 17 kali.

Pasangan mahasiswa tersebut dinyatakan melanggar pasal 23 ayat (1) Jo tentang khalwat (berdua-duan di tempat sepi) dan Ikhtilat (bermesra-mesraan). Serta pasal 25 ayat (1) Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayah.

Berdasarkan informasi diperoleh Prohaba dari penyidik  Satpol PP dan WH Aceh, pada 18 November 2018 lalu pukul 21.00 WIB, keduanya ditangkap oleh tukang parkir dan pedagang  yang berada di sekitaran Masjid Raya Baiturrahman.

Menurut Penyidik, saat itu pasangan pria sedang tidur di pangkuan pasangan wanitanya. Pada saat kejadian kondisi halaman masjid juga sedang sepi, karena sudah selesai shalat Isya. Sehingga, pedagang dan tukang parkir yang melihat kejadian tersebut langsung mengamankan dan menyerahkan keduanya ke Satpol PP dan WH.

Wakil Wali Kota Banda Aceh, Zainal Arifin saat prosesi cambuk kemarin mengatakan, pelaksanaan hukuman syariat Islam tersebut bukanlah untuk menciderai para terpidana. Namun sebagai bentuk hukuman atas tindakan mereka.

Ia menjelaskan, dalam hukuman itu awalnya ada empat orang terpidana yang akan dicambuk. Namun satu orang batal dicambuk karena kondisi kesehatannya yang tidak layak menjalni hukuman.

Terpidana yang ditunda eksekusi cambuk yaitu wanita MF (40). Menurut pihak medis ia mengidap penyakit pengapuran tulang belakang, sehingga jika dipaksakan cambuk akan sangat beresiko.

Wakil Wali Kota mengatakan, sebenarnya terpidana MF menginginkan agar dirinya segera dicambuk. Namun karena kondisi kesehatan yang beresiko, maka jaksa menunda hukuman terhadap yang bersangkutan. “Karena rekomendasi pihak medis tidak layak, maka hukuman cambuk kita tunda, tapi ini bukan berarti tidak tidak lakukan, namun ditunda. Hukuman syariat Islam ini kan sangat toleran terhadap kondisi seperti ini,” jelas Wakil Wali Kota.

MF Diamankan warga November 2018 saat sedang berduaan dengan pasangan prianya SR di warung milik MF di Gampong Geuce Kayee Jato, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh. SR dan MF masing-masing divonis 25 kali cambuk oleh Majelis Hakim Mahkamah Syariah Banda Aceh. Namun setelah pemotongan masa tahanan, keduanya hanya menjalani 22 cambukan.(mun)

Editor : bakri
Share on Facebook
Terkait
PROHABA.co Network

Kembali ke Home
Full Site