ProHaba.co Mobile
home / haba medan

Nurhayati Ditikam Saat akan Berikan Kayu

Senin, 26 Oktober 2015 16:05 WIB
MEDAN - Tiga perampok yang beraksi di kediaman Mukhtar Yakub (70) memang sudah berniat membunuh siapa saja yang memergoki aksi mereka. Nurhayati (67), salah satu korban bahkan dihabisi saat akan memberikan kayu yang diminta pelaku.

Kebiadaban pelaku ini secara perlahan terkuak setelah diperiksa intensif di Polresta Medan. Para tersangka, Rori (24), Yoga (19) dan Lanang (17) ternyata saudara kandung dan memiliki peran tersendiri dalam kasus ini. Yoga, yang lebih akrab dengan keluarga korban sebagai penyusun rencana. Sementara abang sulungnya, Rori sebagai eksekutor. Lanang ditugasi menguras seluruh harta benda di rumah korban walau akhirnya dia juga ikut menganiaya.

Awalnya perampokan ini dilakukan pada Senin (1910), namun batal karena kurang persiapan. Dari situ ide untuk membunuh seluruh penghuni rumah pun muncul. Di sinilah peran Yoga terlihat penting karena dia akan mengalihkan perhatian korban dengan berpura-pura meminta kayu.

“Pisau yang akan digunakan sudah dipersiapkan. Diasah berulang kali sejak hari selasa,” kata Kapolresta Medan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto, Minggu (25/10).

Pada hari naas itu, ketiga tersangka mulai menjalankan aksinya dengan bertamu ke rumah korban sekira pukul 14.00 WIB. Mereka disambut Nurhayati, sementara Mukhtar dan cucu mereka, M Syadiq Kaisan atau Dika berada di kamar.

Nurhayati tidak keberatan ketika Yoga meminta beberapa kayu dengan alasan ingin membuat kandang ayam. Bahkan ibu tiga putri ini mempersilahkan para tersangka ke halaman belakang untuk memilih kayu yang diinginkan.

Seakan tak merasakan sinyal bahaya, Nurhayati menuntun langkah tersangka dengan berjalan terlebih dahulu. Tragis, ketulusan Yati, begitu ia akrab disapa dibalas pelaku dengan biadab. Di halaman belakang itu, Lanang langsung memiting wanita tua ini dan sedetik kemudian menggorok lehernya hingga meninggal.

Tak sampai di situ, kebiadaban tersangka berlanjut karena sadar masih ada penghuni lainnya. Kali ini Rori memainkan perannya dengan memanggil Mukhtar yang masih belum sadar isterinya sudah tiada. Begitu Mukhtar muncul, Rori langsung mencekik leher Mukhtar hingga terbanting ke lantai.

Mukhtar sempat memberikan perlawanan sengit, sehingga membuat Yoga turun tangan memegangi kaki pria yang pernah menjabat Sekretaris Umum Aceh Sepakat ini. Dalam kondisi leher tercekik dan kaki dibekap, Mukhtar tak kuasa menghindar dari serangan brutal Lanang.

“Korban ditusuk berulang kali. Ada sembilan tusukan,” tambah Mardiaz. Keributan ini rupanya menarik perhatian Dika. Bocah laki-laki yang masih kelas satu SD ini pun muncul dan sempat menyaksikan kakeknya dieksuksi tersangka. Hanya sekian detik, giliran Dika yang dibantai para penjahat sadis ini.

Merasa sudah memenangi pertempuran, ketiganya langsung mengobrak-abrik lemari tempat menyimpan benda berharga. Sejumlah perhiasan, laptop, tablet, kamera dan ponsel yang langsung disikat. Sementara pisau yang digunakan membunuh dibuang ke kolam di halaman belakang rumah korban.

“Tersangka masih sempat memindahkan jenazah yang di luar ke dalam, dan jenazah Dika ke kamar mandi. Bekas darah di lantai mereka pel,” tutur Mardiaz.  

Ditambahkan Mardiaz, kebiadaban tersangka ini akan diganjar Pasal 340 KUHPidana tentang perencanaan pembunuhan yang mengatur hukuman mati. Orang tua para tersangka sendiri tidak tertutup dijadikan tersangka, karena dituding ikut menyembunyikan keberadaan tersangka sebelum ditangkap pada Sabtu (24/10).

“Orang tua mereka ikut mengantar tersangka ke rumah saudara mereka di Perjuangan. Peran lainnya sedang didalami,” tandasnya.

Ruslan Armas, warga Aceh yang mengenal baik pribadi keluarga Mukhtar Yakub mengenang korban sebagai pribadi yang sangat baik dan relijius. Pada hari pembantaian itu, Nurhayati dan Dika tengah berpuasa. Dika bisa saja luput dari maut, seandainya hari itu ia berangkat sekolah.

“Mamanya bilang ke saya, sengaja tidak sekolah. Karena asap lagi gawat-gawatnya. Selain itu, dia sama neneknya lagi puasa asyura,” kata Ruslan yang kini menjabat Kepala Perwakilan Pemerintah Aceh di Medan.

Ruslan mengatakan sampai saat ini orang tua Dika sangat terpukul, karena kehilangan orang tua dan anaknya sekaligus. Terlebih Dika merupakan anak semata wayang.(mad)

Editor : bakri
Share on Facebook
Terkait
PROHABA.co Network

Kembali ke Home
Full Site