ProHaba.co Mobile
home / nanggroe / aceh tengah

Oknum Polisi Ikut Dicambuk Diantara 10 Pelaku Maisir

Selasa, 9 Desember 2014 15:32 WIB
TAKENGON - Kejaksaan Negeri (Kejari) Takengon, kembali melakukan eksekusi cambuk bagi 10 orang terdakwa pelaku maisir (judi). Salah seorang diantara 10 tervonis merupakan oknum anggota polisi yang terlibat dalam aksi perjudian. Proses hukum cambuk tersebut, dilangsungkan di depan Gedung Olah Seni (GOS) Kota Takengon, Senin (8/12) pagi.

Selain disaksikan sejumlah anggota forum pimpinan daerah setempat, uqubat cambuk tersebut juga dipertontonkan di hadapan ratusan masyarakat Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

Eksekusi cambuk yang dilakukan oleh Kejari Takengon, merupakan yang ketiga kalinya sepanjang tahun 2014. Ini merupakan kali ketiga dilakukan hukuman cambuk bagi pelanggar syariat. Saya berharap kedepannya tidak ada lagi pelangaran yang sama,” kata Kejari Takengon, Dwi Aries Hidayat. 

Uqubat cambuk bagi para pelaku maisir tersebut, berdasarkan putusan Mahkamah Syar’iyah Takengon yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Dalam amar putusan hakim, ke 10 tervonis kasus maisir tersebut, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana maisir. Rata-rata terdakwa mendapat  uqubat cambuk sebanyak sembilan dan enam kali cambuk, namun dipotong masa tahanan selama 65 hari, sehingga hukuman dikurangi sebanyak tiga kali cambuk.

Para terdakwa maisir yang menjalani hukuman cambuk diantaranya, Ihsanul Putra bin Ahmad (43), Andri Gunawan bin M Yusuf Syafi’i  (33), Zuliadi bin Anwar (24), Najmuddin Sukri bin Selamat (44), Sarmiadi bin Abdul Wahab (38) dan Jama Trisna bin Anwar. 

Pelaku maisir lainya, Herizal bin Amiruddin (34), Fauzi Taeb bin Taeb (44), Maidi bin Abdul Latif (33), dan Buge Kin Aulia bin Fauzi Bintang (31).

Proses uqubat cambuk yang dilangsungkan di depan khalayak ramai itu, berlangsung lancar. Setiap kali para terdakwa dipanggil ke atas panggung untuk menjalani eksekusi, sempat diwarnai dengan teriakan warga yang menyaksikan ekseskusi cambuk itu.

Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Tengah, Tgk H Razali Irsad BA, dalam sambutannya mengatakan, tindakan eksekusi cambuk yang dilaksanakan bagi para pelaku maisir, bukan hanya untuk memberikan efek jera kepada seseorang, tetapi yang lebih penting dijadikan sebagai sesuatu yang bisa mengarahkan diri merubah sikap maupun tindakan dalam menghadapi larangan Allah SWT. “Ini merupakan suatu perbuatan yang memalukan. Malu kepada Allah, kepada Rasul, malu kepada masyarakat, malu kepada keluarga serta malu kepada anak-anak cucu kita,” kata Razali Irsad.(my)


Editor : bakri
Share on Facebook
Terkait
PROHABA.co Network

Kembali ke Home
Full Site