ProHaba.co Mobile
home / nanggroe / subulussalam

Puluhan Kaum Hawa Datangi Kantor WH

Senin, 2 Desember 2013 11:31 WIB
* Minta Pelaku Mesum Ditahan

SUBULUSSALAM - Puluhan warga yang didominasi kaum perempuan berbondong-bondong mendatangi kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP & WH) Subulussalam, Sabtu (30/11) malam lalu. Kedatangan warga asal Cepu Indah, Subulussalam Timur, Kecamatan Simpang Kiri, itu menuntut WH agar menahan pasangan nonmuhrim yang melakukan perbuatan mesum di kampung mereka.

Pasangan nonmuhrim ini masing-masing berinisial AS (47), warga Pemancar, Desa Penanggalan, Penanggalan dan FH (32), penduduk Cepu Indah, Subulussalam Timur. Keduanya digerebek warga sekira pukul 02.00 WIB. Meski sempat mengelak, keduanya tak bisa berkutik ketika warga menemukan pria yang menjadi selingkuhannya berada dalam rumah pada tengah malam.

“Waktu digerebek, kabarnya si laki-laki itu buru-buru mengenakan pakaiannya karena sudah telanjang,” kata salah seorang warga.

Pantauan Prohaba, aksi kaum wanita tersebut dimulai sejak pukul 21.00 WIB. Mereka datang ke kantor WH di Jalan Teuku Umar, depan Rumah Makan Awak Away itu, mengggunakan sepeda motor dan mobil angkutan. Meski malam itu diguyur hujan, tidak mengurangi semangat warga menyampaikan aspirasinya. Kedatangan warga ini diterima langsung Kasat Pol PP dan WH, Baginda Nasution.

Suka Baiyah, koordinator aksi, menyampaikan kedatangan mereka ke kantor WH, menyusul peristiwa penggerebekan pasangan nonmuhrim yang melakukan mesum di desa mereka. Warga menuntut agar pelaku mesum tersebut dihukum sesuai aturan.

Warga juga meminta keduanya ditahan. Jika tidak direspons, para ibu mengancam bertindak sendiri. “Apabila para pelaku ini dilepas, berarti ada permainan kongkalikong dengan Satpol PP dan WH. Jadi, kami menyerang rumahnya karena perbuatan mereka telah mencemarkan nama baik kampong kami,” tegas Suka Baiyah ketika membacakan pernyataan sikap mereka.

Pada pernyataan sikap yang berjumlah sembilan butir tuntutan itu, kaum hawa tersebut juga mendesak aparat penegak hukum di sana meneruskan kasus mesum hingga ke pengadilan atau Mahkamah Syar’iah. Dalam hal itu, kaum ibu meminta hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku seberat-beratnya, agar menjadi cemeti sehingga tidak lagi mengulangi kasus sama.

Pada bagian lain, kaum ibu  juga mendesak Dinas Syariat Islam Subulussalam termasuk Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) setempat, berada di garda terdepan dalam penegakan syariat Islam di daerah tersebut. “Perlu diingat, nanti kaum ibu yang bergerak untuk menyeret menghukum pelaku mesum di Subulussalam Timur,” ancam warga.

Setelah menyampaikan keluhan, para ibu juga menyerahkan pernyataan sikap tertulis tersebut kepada Kasatpol PP dan WH Subulussalam. Menyikapi tuntutan warga, Kasatpol PP dan WH, Baginda Nasution menyatakan pihaknya melaksanakan tugas sesuai qanun. Baginda juga menjelaskan, dalam penerapan qanun, pihaknya tidak berwenang menahan lantaran hal tersebut  tidak diatur.

Menurut Baginda, kedua pelaku sedang diperiksa penyidik. Sesuai qanun, setelah diperiksa penyidik, kasus tersebut akan dilimpahkan kepada pihak kejaksaan. Saat itu, tugas dan kewenangan WH selesai. Adapun tuntutan penjara atau penahanan, kata Baginda, bukan merupakan kewenangan WH.

Baginda mengatakan, pihaknya mendukung penegakan dan hukuman berat bagi pelaku mesum. Akan tetapi, kata Baginda, semua aturan tersebut tidak boleh menyalahi qanun.

“Soal kecurigaan ibu-ibu kami sudah kongkalikong, malam ini saya nyatakan tidak ada kami melakukan kongkalikong. Karena kami juga sepakat kasus-kasus seperti ini tidak akan kami lindungi,” tegas Baginda.

Dia menyarankan adanya pertemuan bersama antara Dinas Syariat Islam Subulussalam, WH, MPU dan aparat desa, menyangkut kasus penyakit masyarakat di daerah tersebut. Setelah mendengar pernyataan Kasat PP dan WH, sebagian warga pun akhirnya membubarkan diri.(kh)

Editor : bakri
Share on Facebook
Terkait
PROHABA.co Network

Kembali ke Home
Full Site