ProHaba.co Mobile
home / haba medan

Nelayan Batubara Datangi PSDKP Belawan

Jumat, 5 April 2013 16:08 WIB
* Minta Pukat Grandong Dihapus

BELAWAN – Sekitar 10 perwakilan masyarakat nelayan asal Batubara mendatangi kantor Pengawasan Sumber Daya Kelautan Perikanan (PSDKP) Stasiun Belawan, Kamis (4/4) siang. Mereka meminta agar pukat grandong dihapus.

Dipimpin Muhammad Isa, 10 perwakilan nelayan ini disambut petugas PSDKP Belawan. Meski tak dihadiri Kepala PSDKP Muchtar, melalui Kepala Bidang Tata Usaha PSDKP Belawan, Monang Harahap, aspirasi dan harapan para perwakilan nelayan Batubara itu diterima dengan baik.

Muhammad Isa menyatakan tak tahan lagi melihat ganasnya kapal pukat grandong yang beroperasi di seputaran perairan Batubara. Dalam pertemuan itu terungkap, masyarakat nelayan Batubara saat ini menjerit dengan penghasilan tangkap yang minim akibat maraknya beroperasi kapal pukat gerandong di sekitar perairan mereka.

Menurut Isa, ada sekitar 40 set kapal pukat gerandong di Batubara yang belum terjamah hukum. Padahal, sesuai Peraturan Menteri (Permen) Nomor 02 tahun 2011, tentang larangan operasional kapal pukat trik dua, jelas diatur. Akanv tetapi, mereka tetap membandel. “Kami takut masyarakat nelayan lainnya emosi dan langsung main bakar,” kata Isa.

Monang Harahap menyatakan pihaknya menerima aspirasi serta keluhan maupun informasi dari nelayan Batubara. Permintaan masyarakat nelayan itu akan disampaikan kepada pimpinannya.

Monang juga menganjurkan agar nelayan Batubara yang merasa resah akan operasional kapal pukat tarik dua, membuat surat keberatan yang ditujukan ke PSDKP Pusat Jakarta. Sebab, pengendalian kapal patroli untuk menangkap kapal pukat gerandong tersebut ada di Pusat (Jakarta).

PSDKP Belawan, kata Monang, hanya sebagai perpanjangantangan. Sedang untuk memerintahkan operasional kapal patroli PSDKP, kewenangannya ada di PSDKP pusat.

Setelah bertemu dengan PSDKP Belawan, perwakilan dari nelayan Batubara tersebut menuju ke Mako Ditpolairda Sumut di Jalan TM Pahlawan, Belawan. Mereka juga menyampaikan harapan sama, dan mendesak aparat Polairda Sumut segera menangkap kapal-kapal pukat tarik dua (gerandong) yang masih beroperasi.

Sebab, kata Isa, operasional pukat gerandong merusak alam laut serta menimbulkan konflik antarnelayan. Kapal tarik dua, katanya, lebih ganas dari pukat harimau.(lau)

Editor : bakri
Share on Facebook
Terkait
PROHABA.co Network

Kembali ke Home
Full Site