Prohaba.co
Hasil Pukat Darat Melimpah, Nelayan Lhoong Urut Dada
Sabtu, 8 Februari 2020 15:31 WIB

BANDA ACEH ‑ Sejak akhir 2019 tercatat sudah beberapa kali nelayan tradisional pukat darat di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar mendapatkan hasil tangkapan melimpah bahkan sempat viral di media sosial.

 

Laporan terbaru yang diterima Prohaba menyebutkan, pada Kamis 6 Februari 2020 nelayan tradisional pukat darat di Gampong Baroh Blang Mee, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar mendapatkan hasil tangkapan mencapai 5 ton.

 

“Ini anugerah yang luar biasa. Kalau kita lihat jumlah tangkapan ikan yang cukup banyak ini, rasanya tidak percaya. Tapi, itulah kenyataannya rezeki yang diberikan oleh Allah SWT," kat Keuchik Gampong Baroh Blangmee, Azhari Djamal.

 

Dikatakan Azhari, ikan yang masuk ke pukat nelayan Gampong Baroh Blang Mee bukan saja melimpah tetapi juga ikan berkualitas, yaitu rambeu (giant travelly) dan tangkek atau di kalangan masyarakat Aceh disebut ikan turok.

Namun, kata Keuchik Azhari, meskipun ikan tangkapan nelayan adalah ikan‑ikan mahal tetapi nelayan harus mengurut dada ketika dibawa ke TPI Lampulo, Banda Aceh harus dijual dengan harga murah.

 

“Rambeu hanya dihargai Rp 20.000 per kilogram di Lampulo padahal kalau dijual di tempat bisa laku paling murah Rp 60.000. Tapi masalahnya ikan sebanyak itu tidak bisa terjual seluruhnya di tempat. Kami tak punya pilihan, kalau tak segera dijual pasti ikannya busuk,” kata Keuchik Azhari.

 

Dikatakan Azhari, total ikan hasil tangkapan pukat darat milik Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Baroh Blangmee mencapai dua truk.

 

Dari jumlah itu, sebanyak 1,5 truk harus dijual ke TPI Lampulo karena tidak ada tempat penampungan di Kecamatan Lhoong.

 

“Setengah truk dibagi‑bagikan ke warga Baroh Blangmee serta dua gampong tetangga termasuk untuk anak yatim, janda, fakir miskin, dan kaum duafa.

 

Dengan penggunaan pukat darat milik BUMG Baroh Blangmee tersebut, hasil dibagi menjadi tiga bagian.

 

Satu keuntungan untuk gampong dan dua bagian untuk nelayan yang terlibat dalam operasional.

 

Azhari juga menjelaskan, hasil tangkapan tidak selalu melimpah tetapi hanya pada waktu‑waktu tertentu atau bersifat musiman.

 

Meskipun hasil tangkapan nelayan pukat darat di Kecamatan Lhoong tidak rutin melimpah, tetapi masyarakat setempat berharap adanya solusi dari pemerintah agar ketika hasil tangkapan melimpah ikan bisa tetap dijual dengan harga yang layak.

 

Salah satu solusinya seperti pernah disampaikan Keuchik Jantang, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Heri.

 

Pada Desember tahun lalu, nelayan pukat darat Gampong Jantang juga mendapatkan tangkapan ikan yang melimpah.

 

Masalahnya, kata Heri, karena tidak ada tempat penampungan, sehingga hasil tangkapan nelayan tak membawa keuntungan yang wajar.

 

Biasanya, kata Heri, masyarakat langsung membawa ke TPI Lampulo untuk dijual dengan harga miring.

 

Karena ikan‑ikan tangkapan itu tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama.

 

Heri menaruh harapan kepada pemerintah untuk dapat menyediakan tempat pelelangan ikan di Kecamatan Lhoong. “Sehingga para nelayan dapat menjual dengan harga normal bila

 

sewaktu‑waktu kembali mendapatkan hasil yang melimpah,” demikian Keuchik Jantang.(mir/nas)


Editor : bakri