Prohaba.co
Pria Asal Banda Raya Kendalikan Peredaran Sabu Aceh‑Lampung
Sabtu, 14 Desember 2019 16:25 WIB
serambinews_sabu.jpg
FOTO KOMPAS.COM/TRI PURNA JAYA
KEPALA BNN Lampung, Brigjen Ery Nursantari, Selasa (10/12) menunjukkan barang bukti sabu 40 kg yang ditangkap dari jaringan pengedar sabu Aceh-Lampung. Tersangka bandar dari Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh ditembak sedangkan seorang kurir asal Aceh Utara meninggal setelah dilakukan ntindakan tegas terukur oleh tim BNN.

LAMPUNG ‑ Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung menggagalkan peredaran narkotika jenis sabu jaringan Aceh‑Lampung seberat 41,6 kg. Menurut informasi, bisnis terlarang itu dikendalikan seorang pria ganteng asal Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh bernama Muntasir (36) yang ditembak petugas. Seorang lainnya, asal Baktiya Barat, Aceh Utara tewas setelah dilumpuhkan dengan timah panas.

 

Selain mengamankan 41,6 kg sabu yang dikirim dari Aceh, petugas juga berhasil menangkap lima tersangka lainnya setelah dilumpuhkan dengan senjata api.

 

Salah seorang bandar yang ditembak petugas BNN adalah Muntasir (36), warga Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, tersangka pengendali jaringan penyelundupan sabu ke Lampung.

 

Sabu seberat 41,6 kg yang ditaksir senilai Rp 40 miliar dikirim untuk stok persediaan malam tahun baru 2020 di Lampung.

 

Menurut BNNP Lampung, enam tersangka  yang diduga jaringan peredaran sabu Aceh‑Lampung tersebut yaitu Hatami alias Tami alias Iyong (33) warga Teluk Betung Selatan, Supriyadi alias Udin (33) warga Teluk Betung Selatan, Suhendra alias Midun (38) warga Jalan Gunung Kunyit.

 

Kemudian Irfan Usman (38) warga Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara, Jefri Susandi (41) warga Perumahan Puri Hijau, Kecamatan Kedaton, dan Muntasir (36) warga Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh. Tersangka Irfan Usman ditembak lantaran berusaha melawan saat diamankan dan meninggal dunia.

 

Kepala BNNP Lampung, Brigjen Pol Ery Nursatari mengatakan penggagalan peredaran gelap narkotika ini bermula dari informasi masyarakat yang menyebutkan akan ada pengiriman sabu ke Lampung pada hari Rabu 4 Desember 2019 menggunakan kendaraan dan diterima oleh kurir di Lampung. Serah terima sabu tersebut akan dilakukan di RSUDAM Bandar Lampung.

 

Mendapat informasi itu, BNNP Lampung langsung menyebar anggota ke sasaran. Tim Intel menemukan profil target kurir penerima yang bernama Suhendra alias Midun.

 

Di RSUDAM, tim BNNP Lampung mendapati mobil Toyota Fortuner putih nopol B 1753 WLR yang ditinggalkan menyala di parkiran.

 

"Kami langsung melakukan penyergapan, namun kurir penerima berusaha melarikan diri," katanya.

 

Dari penyergapan ini, lanjut Ery, diamankan Suhendra alias Midun (38), warga Jalan Gunung Kunyit dan Irfan Usman (38) warga Baktiya Barat, Aceh Utara.

 

Menurut Kepala BNNP Lampung, mobil Toyota Fortuner B 1753 WLR ditinggalkan begitu saja oleh kurir asal Aceh bernama Irfan Usman.

 

Irfan Usman berhasil ditangkap di RSUDAM, sementara Midun berusaha kabur dengan menggunakan Fortuner putih tersebut. Tersangka Suhendra memacu kendaraan menuju ke arah Jalan Teuku Umar lalu masuk ke dalam Gang Onta dan mencoba melarikan diri dengan meninggalkan kendaraan.

 

"Kami berikan tembakan peringatan, namun tak diindahkan sehingga kami lakukan tindakan tegas terukur di kaki tersangka," ucapnya.

 

Dari dalam mobil, tambah Ery, pihaknya mengamankan sabu 41,6 kg yang ditempatkan di 40 bungkus teh hijau cina dengan berat masing‑masing 1 kilogram.

 

Dari hasil pengembangan, BNNP Lampung mengamankan tiga orang pengendali penerima sabu seberat 41,6 kg tersebut yang ternyata berada di dalam Rumah Tahanan (Rutan) Way Huwi.

 

Ketiganya yakni Hatami alias Tami alias Iyong (33) warga Teluk Betung Selatan, Supriyadi alias Udin (33) warga Teluk Betung Selatan, dan Jefri Susandi (41) warga Perumahan Puri Hijau, Kecamatan Kedaton.

 

Kepala BNNP Lampung Brigjen Pol Ery Nursatari mengatakan ketiga napi tersebut dijemput tak lama dari penangkapan kedua kurir. "Kami ambil ketiganya di Rutan Way Huwi saat itu juga dan kami dapatkan tiga unit handphone dari tangan ketiganya," ungkapnya.

 

Ery mengatakan, salah satu tersangka Jefri Susandi merupakan tahanan yang baru saja ditangkap oleh BNNP Lampung atas pengiriman sabu seberat 13 kg.

 

Kepala BNNP Lampung, Brigjen Pol Ery Nursatari mengatakan, ketiga anggota jaringan yang diambil dari dalam Rutan Way Huwi bersama dua kurir yaitu Suhendra alias Midun (38) dan Irfan Usman asal Baktiya Barat, Aceh Utara dibawa ke Kantor BNNP Lampung untuk pemeriksaan.

 

"Saat di perjalanan, para tersangka berusaha melawan dan kabur, sehingga anggota terpaksa dilakukan tindakan tegas terukur," sebut Brigjen Ery.

 

Setelah dilakukan tindakan tegas terukur, mereka dilarikan ke rumah sakit untuk pertolongan medis. "Namun belum sampai ke rumah sakit, salah satu tersangka (Irfan Usman) kehabisan darah sehingga tak bisa tertolong. Dia meninggal,” katanya.

 

Ery menambahkan jenazah Irfan kemudian dikirim ke Aceh untuk diserahkan kepada keluarga. "Tersangka sudah dimakamkan," pungkasnya.

 

Kepala BNNP Lampung, Brigjen Pol Ery Nursatari juga menginformasikan, pengejaran dilakukan hingga ke Aceh setelah tersangka Jefri Susandi mengaku mendapatkan sabu tersebut dari seseorang bernama Muntasir.

 

"Dia ini DPO, maka tak ambil pusing, kami bersama Tim Tindak Kejar BNN RI bergerak melakukan pengembangan

ke Aceh pada hari Sabtu 7 Desember 2019," kata Brigjen Ery.

 

Ery menuturkan, Muntasir ditangkap di sebuah rumah di kawasan Dham Ceukok, Aceh Besar. Rumah tersebut milik PNS Lapas Kelas II Lambaro (atas nama Fatwa)," ungkpa Brigjen Ery.

 

Setelah menangkap Muntasir, tim BNN angsung melakukan pengembangan TPPU.

 

Pertama, kata Brigjen Ery dilakukan penggeledahan di rumah tersangka di kawasan Meunasah Manyang Pagar Air, Aceh Besar yang dihuni oleh DK, istri pertama tersangka Muntasir.

 

Kedua, lanjut Ery, pengembangan ke rumah orang tua DK di kawasan Lamlagang, Kota Banda Aceh. Selanjutnya, penggeledahan ketiga di sebuah doorsmeer kawasan  Neusu Aceh, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh.

 

Penggeledahan keempat di rumah FH yang masih ada hubungan saudara dengan tersangka beralamat di Desa Meunasah Manyang Pagar Air, Ingin Jaya, Aceh Besar, dan terakhir di rumah GM (istri tersangka) di kawasan Lambhuk, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh.

 

Masih menurut Kepala BNNP Lampung, hasil pengejaran dan penggeledahan di Aceh, pihaknya menyita sejumlah barang bukti yaitu mobil Honda Jazz BL 1885 JJ, mobil Honda CRV BL 1149 JE, mobil Range Rover B 2540 STH, 2 sertifikat tanah, uang Rp 1.100.000, uang 150 Ringgit Malaysia, perhiasan, beberapa kartu ATM, beberapa buku tabungan, dan paspor.

 

"T ersangka dan barang bukti dibawa dan diamankan oleh penyidik di Kantor BNNP Lampung," tandasnya.(tribunnews.com)


Editor : bakri