Prohaba.co
Algojo Hukum Cambuk di Aceh Tamiang Dikritik
Sabtu, 7 Desember 2019 15:43 WIB

KUALASIMPANG ‑ Tata cara eksekusi cambuk terhadap pelanggar hukum jinayat di Aceh Tamiang, mendapat sorotan dari praktisi hukum karena dinilai tidak sesuai SOP.

 

Kritikan ini disampaikan Suryawati dari LBH PP3M Cabang Aceh Tamiang setelah menyaksikan langsung eksekusi cambuk terhadap 33 pelanggar hukum jinayat di Islamic Center Aceh Temiang, Jumat kemarin.

 

Suryawati menyoroti cara algojo yang dinilainya berlebihan saat melakukan eksekusi. Selain membuka tangan lebih dari 90 derajat, algojo juga secara nyata mengayunkan tangannya ke belakang.

 

"Tidak boleh ada ayunan. Tangan dibuka 90 derajat dan langsung diempaskan ke tubuh terpidana," kata Suryawati, Jumat (6/12).

 

Suryawati merasa perlu manyampaikan hal ini karena menyangkut hak asasi dan perbaikan proses hukum ke depan.

 

Dia khawatir, bila kesalahan ini tetap dilanjutkan bisa memunculkan dendam.

 

Pendapat serupa disampaikan praktisi hukum lainnya, Rahmad Syahfrial. Menurutnya, pelaksanaan eksekusi sudah diatur secara detil mulai dari pakaian algojo, alat eksekusi, hingga cara menghukum terpidana.

 

"Aturannya sudah jelas, tidak boleh mengikuti keinginan algojo," kata Rahmad yang kini sebagai anggota b DPRK Aceh Tamiang.

 

Aksi algojo ini sendiri, sempat menuai reaksi tim eksekusi. Ketika mencambuk terpidana, dinilai terlalu pelan. Bahkan Kasi Pidum Kejari Aceh Tamiang, Roby Syahputra meminta algojo tersebut diganti.

 

Kritikan yang disuarakan LBH PP3M Cabang Aceh Tamiang dan seorang praktisi hukum tentang tata cara eksekusi cambuk terhadap pelanggar hukum jinayat tidak sesuai SOP dibantah oleh pihak Dinas Syariat Islam Aceh Tamiang.

 

"Semua algojo yang diturunkan untuk melakukan eksekusi sudah mengikuti bimbingan teknis. Sudah dibekali pemahaman semuanya. Jadi saya pastikan sudah sesuai SOP," kata Kabid SDSI Dinas Syariat Islam Aceh Tamiang, Said Anwar, menanggapi kritikan tersebut, Jumat (6/12).

 

Said keberatan terhadap penilaian bahwa eksekusi tidak sesuai SOP. Pasalnya, di panggung eksekusi terdapat unsur jaksa, polisi syariah, tim medis, dan hakim pengawas.

 

Bahkan hakim pengawas berhak menegur, bila tata cara eksekusi dianggap tidak sesuai prosedur. "Nyatanya hakim pengawas tidak ada menegur," kata Said Anwar.

 

Said menduga, kritikan ini dipicu menyebarnya foto kondisi terpidana yang mengalami luka cambukan hingga mengenai lengan.

 

Dia menjelaskan, luka di lengan itu akibat lengan berada di belakang sehingga tersentuh ujung rotan. "Bila tangan di depan, dipastikan tidak kena cambuk," demikian Said Anwar.(gun)


Editor : bakri