Prohaba.co
Warga Lihat Bola Api Meluncur dari Langit
Minggu, 24 November 2019 15:58 WIB
serambinews_petir1.jpg
PROHABA/KHALIDIN
PUING-puing rumah Sabaruddin di Desa Danau Teras, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, korban sambaran petir, Jumat (22/11) sore.

SUBULUSSALAM – Bencana sambaran petir yang melukai sejumlah orang dan menghanguskan satu dari tiga rumah di Desa Danau Teras, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Jumat (22/11) sore menyisakan penderitaan dan taruma mendalam terhadap korban. Berbagai cerita mengerikan juga mewarnai fenomena alam tersebut.

 

Seorang korban bernama Isharmoko (25) menceritakan, gelegar petir di tengah hujan lebat itu memunculkan ketakutan yang teramat sangat.

 

Menurut pria yang akrab disapa Ishar tersebut, di tengah suasana mencekam itu tiba‑tiba dia dan tetangganya menyaksikan bola api meluncur dari langit dan menghantam rumahnya, termasuk dua rumah lain milik tetangganya.

 

“Saat menghantam rumah, bola api itu berserak membentuk percikan seperti kembang api. Salah satu rumah yaitu milik tetangga saya Muhammad Sabaruddin terbakar dan rata dengan tanah,” kata Ishar menceritakan kejadian itu.

 

”Saya melihat langsung kejadian itu, ngeri kali, tangan saya pun kena sambaran, istri saya lebih parah,” ujarnya.

 

Cerita sambaran petir yang tampak seperti bola api melayang ini memang kerap disampaikan masyarakat. Bahkan bola api yang pecah berserakan itu membuat lantai rumah milik Muhammad Sabaruddin alias Rois remuk.

 

Murni (25), istri Ishar yang juga disambar petir mengalami luka parah bahkan sempat ditanam dalam kubangan lumpur.

 

Menanam atau mengubur tubuh korban sambaran petir dalam tanah berlumpur merupakan kebiasaan turun temurun di masyarakat Kota Subulussalam yang diyakini sebagai penghilang setrum atau bisa petir.

 

Hal senada disampaikan Siti Yulinar (24) yang tak luput dari sambaran. Hingga kemarin Siti Yulinar dilaporkan masih tergeletak karena sebelah tangannya bagian kanan masih kebas sehingga sulit digerakkan.

 

Siti Yulinar juga tampak syok apalagi ketika membayangkan petir berbentuk bola api yang menghunjam bagian atas rumah mereka. “Ngeri sekali. Kabel listrik di rumah kami gosong semua,” ujar Siti dengan nada terbata‑bata.

 

Tiga rumah yang menjadi sasaran setrum alam tersebut berada di bagian dalam Desa Danau Teras, jalur tembus Desa Kuta Cepu, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.

 

Di lokasi ini ada tiga rumah berderetan serta satu bagian depan. Umumnya rumah di kawasan ini merupakan penduduk miskin. Kini, satu dari tiga rumah berdekatan itu telah rata dengan tanah.

 

Seperti diberitakan, petir ‘menyetrum’ Desa Danau Teras, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, sekitar pukul 16.30 WIB, Jumat (22/11). Akibat kejadian itu, sebuah rumah milik Muhammad Sabaruddin (40) alias Rois terkena sambaran yang menghanguskan bangunan berukuran 5x5 meter tersebut.

 

Tak ada apapun yang bisa diselamatkan kecuali pakaian yang melekat di badan. Masih untung, Sabdaruddin bersama istrinya, Dewi (38) dan empat anaknya yaitu Putri (11), Edon Afroni Sahputra (10), Vita (8), dan si bungsi Zahira (6) selamat dari musibah itu.

 

Selain membakar habis rumah milik Sabdaruddin, petir juga melukai empat warga yaitu suami istri Isharmoko (25) dan Murni (23), Siti Yulinar (24), dan Zahira (anak bungsu Muhammad Sabaruddin).

 

Seorang korban bernama Murni mengalami luka berat dengan kondisi tubuh mengelupas. Sedangkan Siti Yulinar mengalami kebas.

 

Muhammad Sabaruddin (40), pria yang sehari‑hari bekerja sebagai buruh kasar itu berusaha tegar. Matanya nanar menatap puing puing rumahnya yang telah rata dengan tanah setelah terbakar akibat disambar petir, Jumat sore, 22 November 2019.

 

Muhammad Sabaruddin merupakan satu dari sejumlah korban lainnya di Desa Danau Teras, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulssalam yang disambar petir, duia hari lalu. Meski Sabaruddin bersama istri dan keempat anaknya luput dari maut, namun semua harta benda termasuk rumahnya lenyap.

 

Sabaruddin bersama keluarganya belum genap setahun menempati rumah yang kini berubah jadi puing‑puing tersebut. Rumah berukuran 5x5 meter itu dibangun atas bantuan (patungan) masyarakat Desa Danau Teras karena Sabaruddin termasuk sangat miskin dan sebelumnya menempati gubuk beratap dan dinding terpal (plastik).

 

Selain dililit kemiskinan, Sabaruddin juga harus mendampingi istrinya, Dewi (38) yang sejak lima tahun terakhir haya mempu berbaring akibat didera berbagai macam penyakit.

 

Ketika petir menyambar dan membakar rumahnya sore itu, tetangganya ikut menyelamatkan Dewi yang tak berdaya.

 

Kini, Sabaruddin yang akrab disapa Rois bersama anak istrinya hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Dia seolah kehabisan kata‑kata dan harapan menghadapi hari‑hari ke depan. Akankah keluarga miskin ini masih bisa tersenyum? Hanya waktu yang akan menjawab. (lid/nas) 


Editor : bakri