Prohaba.co
Usai Dicambuk, Penjudi Senyum
Jumat, 14 Juni 2019 10:46 WIB
serambinews_camb.jpg
ALGOJO mencambuk seorang perempuan di halaman Masjid Abu Bereueh Beureunuen, Pidie, Kamis (13/6). Dia disebat 100 kali cambukan karena didakwa kasus zina.
* Wanita Kasus Zina Dua Kali Merintih

SIGLI - Kejaksaan Negeri (Kejari) Pidie, Kamis (13/6) sore, melaksanakan hukuman cambuk terhadap lima pelanggar syariat Islam. Mereka terdiri atas empat pria yang merupakan terpidana kasus judi (maisir) dan seorang perempuan yang tersandung kasus zina, dicambuk di halaman Masjid Abu Beureueh, Beureuenuen, Pidie. 

Prosesi uqubat cambuk yang dimulai bakda Zuhur tersebut diwarnai dengan kejadian tak lazim. Kejadian itu adalah satu dari empat pria terpidana kasus maisir melayangkan senyum ke arah petugas dan pengunjung yang hadir ke tempat tersebut seusai dicambuk. Pria yang mendapat giliran cambuk kedua setelah terpidana kasus zina itu bernama Iskandar A Gani (43).

Iskandar dan tiga pria lain yang semuanya merupakan warga Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, masing-masing disebat 23 kali cambukan setelah dipotong masa tahanan. Sebelumnya, mereka divonis 25 kali cambuk oleh majelis hakim Mahkamah Syar’iyah (MS) Kelas IIB Sigli, Pidie. Keempat penjudi tersebut adalah Iskandar A Gani (43), warga Desa Alue Adan, Syarbaini Junet (49), warga Jumphoih Adan, Nurdin Khatab (51) asal Dayah Adan, dan Fazli Zakaria (30) warga Desa Karieng.

Sementara terhukum kasus zina yang harus menjalani hukuman cambuk 100 kali adalah Hasnidar Imran (19), perempuan asal Gampong Panjoe, Glumpang Minyeuk, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie. Sedangkan Sedangkan pasangan zinanya berinisial TA (17), tidak dicambuk karena masih di bawah umur.

Kasi Datun Kejaksaan Negeri Pidie, T Tarmizi SH, kemarin, menjelaskan, keempat terpidana maisir tersebut ditangkap aparat keamanan saat bermain judi joker di kebun kosong pinggir sungai Gampong Jumphoih Adan, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, pada Jumat (10/5) sekitar pukul 12.30 WIB.

Saat aparat tiba di lokasi, menurut Tarmizi, para penjudi melarikan diri. Hanya empat orang yang  berhasil ditangkap dan diproses dihukum. Dalam pemeriksaan di persidangan dan putusan yang dibacakan Majelis Hakim MS Kelas IIB Sigli menyatakan terdakwa Syarbaini, Iskandar, Nurdin Khatab, dan Fazli, terbukti bersalah melanggar Pasal 19 Qanun Aceh Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. 

Sehingga masing-masing mereka divonis cambuk 25 kali di depan umum. Majelis hakim juga memerintahkan barang bukti berupa satu meja khusus beralaskan granit warnak krem, dua set kartu joker, dan enam lembar kartu joker dimusnahkan. Selain itu, uang tunai sebesar Rp 1.536.000 dirampas untuk disetor ke Baitul Mal Pidie.

Sementara terhukum kasus zina yaitu Hasnidar Imran (19), perempuan asal Gampong Panjoe, Glumpang Minyeuk, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, disebat 100 kali cambukan. Sedangkan pasangan zinanya, TA (17) tidak dicambuk karena masih di bawah umur. Sebab, belum ada aturan hukum yang mengatur tentang proses cambuk untuk anak di bawah umur. Sehingga, TA akan diproses dengan Undang-undang Perlindungan Anak.

Saat dicambuk, Hasnidar sempat dua kali merintih kesakitan dan mengacung tangan ke atas. Pertama pada sebatan 50 kali. Kemudian kali kedua pada sebatan ke 73. Sehingga setelah cambukan ke-50, algojo menghentikan sementara sebatan. Perempuan itu kemudian dibawa ke dalam masjid untuk mendapat bantuan medis, diberi air minum dan dilihat kesehatannya. Saat Hasnidar dibawa ke dalam masjid, algojo menyebat empat pelaku maisir satu per satu. Jumlah cambukan untuk keempat pria dihitung sampai tuntas oleh jaksa.

Setelah itu, Hasnidar dicambuk lagi yang dimulai pada sebatan ke 51 kali. Pada cambukan ke 73, Hasnidar merintih kembali. Sama seperti saat penghentian pertema, perempuan itu dibawa lagi ke dalam masjid oleh petugas. Beberapa saat kemudian, Hasnidar menjalani sisa cambuk hingga 100 kali. Prosesi uqubat itu berlangsung hingga selesai dengan tanpa hambatan.
Hasnidar dan pasangan prianya, TA (17) asal Kecamatan Glumpang Baro, Pidie, dari laporan yang ada diketahui menginap di salah satu kebun kawasan Gampong Amut, Kecamatan Glumpang Tiga. Sebelumnya mereka jalan-jalan dengan sepeda motor dan makan mi hingga bermalam di kebun sampai akhirnya diciduk. Setelah diproses hukum sampai tuntas, Hasnidar divonis 100 kali cambuk.

Tarmizi menyatakan, anak-anak di bawah diatur dengan undang-undang perlindungan anak. Sehingga TA tidak dapat dicambuk, tapi ia diproses dengan undang-undang anak. Selain itu, merujuk pada hukum anak, belum ada aturan gubernur untuk anak di bawah umur terkait hukuman cambuk. “Maka itu, dia (TA-red) baru ditetapkan sebagai saksi dan proses hukumnya hingga kini masih berlangsung,” pungkas Tarmizi.(aya)


Editor : bakri