Prohaba.co
Pria ‘Patah Takue’ di Simpang BPKP Disuruh Mengemis oleh Keluarga
Rabu, 24 Oktober 2018 11:36 WIB
BANDA ACEH - Bagi anda yang pernah melintas di kawasan Simpang BPKP, Banda Aceh, pasti ingat dengan seorang pengemis yang mengalami cacat fisik akibat gangguan syaraf leher belakang yang dideritanya. Akibatnya pria malang terlihat seperti ‘patah takue’ (patah leher). 

Pria malang bernama Nazaruddin, berumur sekitar 23 tahun itu, sengaja dieksploitasi dan diduga dipaksa jadi pengemis oleh orang tuanya yang menetap di salah satu gampong di Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie.

Fakta mengejutkan itu diungkapkan Kepala Dinas Sosial (Kadissos) Kota Banda Aceh, Drs Muzakir didampingi Kabid Rehabilitasi, TM Syukri SSos MAP, kepada Prohaba, Senin (22/10). “Pengakuan itu langsung kami dengar langsung dari orang tua Nazar, pada saat Nazar kami antar ke kampung halamannya di Kecamatan Delima Pidie, setelah terjaring  razia,” kata TM Syukri.

Ia menjelaskan pada saat Nazar terjaring razia penertiban yang dilakukan bersama tim gabungan dari Satpol PP dan Polresta Banda Aceh. Lalu pria malang itu diantar ke kampung halamannya di Delima Pidie, pihaknya mendapatkan keterangan kalau selama ini Nazar memang sengaja disuruh mengemis oleh keluarganya. 

Lalu, menurut orang tua Nazar, lanjut TM Syukri, pemuda malang itu sengaja disuruh mengemis di Banda Aceh dengan dibantu sejumlah joki atau orang-orang yang berbeda untuk membawa Nazar mengemis di Simpang BPKP. Lalu dari hasil mengemis, lebih banyak diperoleh oleh Joki. 

Fakta lainnya yang diperoleh dari pihak keluarga, Nazar, anak cacat ini juga sengaja ditempatkan mengemis setiap hari di Simpang BPKP dengan ditemani joki yang sering bergonta-ganti. 

Kemudian untuk mempermudah menjangkau lokasi, orang tuanya menyewa sebuah rumah di satu gampong di Kecamatan Banda Raya serta berlangganan sebuah becak penumpang, agar bisa mengantar Nazar ke Simpang BPKP setiap hari. “Ini kenyataan yang miris. Kami juga sempat memberikan peringatan pada keluarga bahwa tindakan yang dilakukan itu salah dan bisa dipidanakan.

Uang yang diperoleh Nazar selama ini dari mengemis juga digunakan untuk kepentingan keluarganya di Delima Pidie. 

‘Kami mengindikasikan uang yang dicari oleh Nazar selama ini dari mengemis dengan dalih untuk keperluan operasinya hanya modus dan bentuk ‘pembelaan’ semata. Meski demikian, kami tetap mengarahkan keluarga membuat surat keterangan tidak mampu dan ditujukan ke Dinsos Pidie untuk membantu memfasilitasi biaya pengobatan Nazar, kalau hal itu benar,” ungkap TM Syukri.

Namun, yang memilukan,, sekitar seminggu dipulangkan ke  desanya, di Kecamatan Delima, Pidie, Nazar justru kembali terlihat. 

Tapi, bukan di Simpang BPKP, Banda Aceh, melainkan sudah berada di traffic light, Simpang Lampeuneurut, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar dan dibawa oleh seorang joki berbeda lainnya, pungkas Kabid Rehabilitasi Dinsos Kota Banda Aceh ini. “Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama. Kami minta kepada seluruh warga, pengguna jalan, pemilik warung dan restoran untuk tidak memberi ruang pengemis meminta-minta di tempat usahanya. Tapi, usaha yang kita lakukan ini agar para pengemis ini tidak menjadi malas,” demikian TM Syukri.(mir)

Editor : hasyim