Prohaba.co
Tertinggal Hp, Pemuda Peudada Babak Belur
Kamis, 11 Oktober 2018 11:14 WIB
* Pelaku Tuduh Korban Menemui Anaknya saat Rumah Sepi 

BANDA ACEH - Martunis (24), pemuda Gampong Meunasah Cut, Kecamatan Peudada, Bireuen, babak belur dihajar Nasrul (33), warga Kecamatan Trumon, Aceh Selatan yang berdomisli di Gampong Alue Naga, Kecamatan  Syiah Kuala, Banda Aceh, Minggu (7/10) malam. Pasalnya korban yang diduga tertinggal handphone di rumah tersangka, mendapat tuduhan ingin menemui anak tiri perempuan tersangka yang tinggal seorang diri saat rumahnya sepi.

Tersangka Nasrul yang gelap mata serta telah dikuasai amarah dan tidak mau mendengar penjelasan apapun dari korban, akhirnya secara membabi buta menghajar pemuda tersebut di bagian wajah serta menggunakan gagang cangkul yang dihantam di punggung korban, sehingga meninggalkan lebam di bagian mata dan luka lecet di bagian punggung.

Hal tersebut diungkapkan Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto SH, melalui Kapolsek Syiah Kuala, AKP Asyhari Hendri SH MM, kepada Prohaba, Rabu (10/10). “Penganiayaan itu terjadi Minggu malam, sekitar pukul 20.50 WIB. Esok harinya, Senin, 8 Oktober 2018, korban membuat laporan ke polsek bernomor L.PB/42/X/Yan.2.5/2018/SPKT/SEK-Syiah Kuala. Pada Selasa, 9 Oktober 2018 dini hari, sekitar pukul 01.30 WIB, tersangka ditangkap dan saat ini sedang menjalani proses lebih lanjut,” kata Asyhari. 

Kapolsek Syiah Kuala ini menyebutkan kronologis penganiayaan yang dialami Martunis, berawal saat remaja itu datang ke rumah Nasrul di Gampong Alue Naga sekitar pukul 20.30 WIB dan menemui Nelvi, anak tiri tersangka.

Tidak lama berada di sana, Martunis, akhirnya disuruh pulang, karena tersangka bersama istrinya hendak keluar rumah. “Nasrul meminta Martunis pulang, karena tidak ingin melihat anak tiri perempuannya itu, berada di rumah bersama tersangka di saat mereka tidak ada. Sejauh itu, tidak ada persoalan dan apa yang dilakukan tersangka benar,” kata Asyhari.

Tetapi, begitu korban Martunis pulang dan sedang membeli rokok di warung dekat rumah tersangka, tiba-tiba pemuda itu merasa handphone miliknya tertinggal, sehingga kembali ke rumah tersangka yang tidak terpaut jauh. “Korban menemukan Hp-nya tinggal di kursi depan teras rumah. Tapi, tidak lama korban berada di sana, tiba-tiba tersangka pulang bersama istrinya. Pelaku pun langsung kalap, meski pengakuan tersangka alasan dia kembali ke rumah itu, karena Hp-nya tertinggal. Namun, tersangka tidak menggubris alasan korban. Tersangka menduga itu hanya alasan korban untuk bisa kembali ke rumahnya dan menemui anak tirinya di saat rumah sepi,” sebut Asyhari.

Tapi, alasan korban yang mengaku tertinggal Hp di teras rumah tersangka diakui oleh saksi, yakni Nelvi yang tak lain anak tiri tersangka, sehingga Nasrul pun ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan. “Harusnya kasus-kasus penganiayaan seperti ini tidak harus terjadi. Kan masih ada cara-cara bijak yang bisa diselesaikan dalam suatu kasus, tidak harus selalu mengedepankan kekerasan,” pungkas AKP Asyhari.(mir)

Editor : hasyim