Prohaba.co
Wisatawan Aceh Tewas dalam Tragedi Danau Toba
Rabu, 20 Juni 2018 10:51 WIB
* 18 Selamat, 94 Penumpang Hilang

MEDAN – Satu korban tewas dalam kecelakaan kapal tenggelam di Danau Toba dipastikan berasal dari Aceh Tamiang. Tim gabungan masih terus mencari 94 korban hilang hingga tujuh hari ke depan.

Korban Tri Suci Hadayani (24) sempat ditangani tim medis di Puskesmas Tigaras, Samosir. Sebelumnya korban diselamatkan kapal lain saat berenang bersama 18 penumpang lainnya usai KM Sinar Bangun karam di dekat Pelabuhan Tigaras. Namun kondisi korban terus memburuk dan dinyatakan meninggal pada Selasa (19/6).

Sejauh ini Tri merupakan satu-satunya korban meninggal pada kecelakaan tunggal yang terjadi Senin (8/6) pukul 17.15 WIB itu. “Data yang kami kumpulkan sampai siang ini ada satu korban meninggal, atas nama Tri Suci Hadayani warga Aceh Tamiang,” kata Kabid Humas Polda Sumut AKBP Tatan Dirsan Atmaja, Selasa (19/6).

Dirjen Perhubungan Darat (Hubdat) Kemenhub, Budi Setiyadi yang datang langsung ke lokasi kejadian menyebut KM Sinar Bangun yang tenggelam dalam perjalanan dari Pelabuhan Simanindo ke Pelabuhan Tigaras mengangkut 128 penumpang. Sebanyak 94 penumpang dinyatakan hilang, dan 18 penumpang yang berhasil diselamatkan hingga kini masih dalam perawatan. “Sesuai data dari posko pengaduan di Pelabuhan Simanindo, jumlah korban hilang sembilan puluh empat orang. Mudah-mudahan jumlah ini tidak bertambah, kita sangat berduka,” kata Budi.

Dia mengatakan Kemenhub bersama Basarnas sudah membentuk lima tim untuk mencari seluruh korban. Untuk tahap awal tim ini akan bekerja selama tujuh hari. Kinerja tim nantinya akan dievaluasi untuk menentukan apakah pencarian dihentikan atau dilanjutkan. Budi mengatakan penyebab kecelakaan ini belum bisa dipublikasikan karena masih tahap investigasi. Namun kesaksian penumpang selamat, saat kejadian cuaca sangat buruk. “Kondisinya angin kencang dan ombak tinggi. Sebatas ini yang bisa saya sampaikan,” ujarnya.

Tatan sendiri tidak menampik ada dugaan pelanggaran yang dilakukan nakhoda kapal. Dari keterangan saksi, kapal tersebut mengangkut penumpang melebihi batas normal. Prosedur pembelian tiket juga diabaikan, karena pembayaran tiket dilakukan setelah penumpang berada di atas kapal. “Ini yang menyebabkan terjadi simpang siur jumlah korban. Tidak ada data manifest,” sambungnya.

Bahkan di sisi kanan dan kiri kapal dipenuhi sepeda motor milik penumpang. Diperkirakan kendaraan roda dua ini mencapai 60 unit.  Keberadaan kendaraan merupakan pelanggaran karena KM Sinar Bangun merupakan kapal wisata yang hanya diperuntukan untuk orang.(mad)

Editor : bakri