Prohaba.co
Polisi Bekuk Sindikat Pengedar Materai Palsu Asal Medan
Kamis, 29 Maret 2018 11:27 WIB
TAPAKTUAN - Satuan Reserse dan Kriminal (Sat Reskrim) Polres Aceh Selatan membekuk dua tersangka yang juga anggota sindikat penjual dan pengedar materai palsu di wilayah hukum Polres Aceh Selatan. Keduanya adalah,  Hendra Pangaribuan dan Mhd Heru Auliya yang tercatat sebagai warga asal Sumatera Utara (Sumut). Bersama keduanya ikut disita beberapa baeang bukti yang kini diamankan di Mapolres Aceh Selatan untuk pengusutan lebih lanjut.

Kapolres Aceh Selatan, AKBP Dedy Sadsono ST yang didampingi Wakapolres Kompol Iskandar SE.Ak dan Kasat Reskrim Iptu Muhammad Isral S.Ik, Selasa (27/3) menjelaskan, terciduknya kedua tersangka asal Medan tersebut berawal dari informasi yang diperoleh pihaknya dari masyarakat, yang selanjutnya dilakukan pengembangan. “Tersangka mendapatkan materai tersebut dari pria yang diakui bernama Tiar. Anehnya tersangka malah mengaku tak kenal karena tak pernah bertemu,” ungkap Kapolres Aceh Selatan.

Sesuai pengakuan tersangka juga, alamat pria yang dakui sebagai Tiar itu berada di Rawamangun, Jakarta Pusat. Diakui, Tiar menjual materai palsu senilai Rp 6.000 tersebut kepada tersangka Hendra Pangaribuan dengan harga Rp 125.000 per lempeng yang setiap lempeng berisi 50 lembar materai. Selanjutnya tersangka Hendra menjualnya ke Mhd Heru Auliya seharga Rp 150.000/lempeng. “Kemudian tersangka Heru Auliya menitipkan materai palsu tersebut kepada saksi Adrianto, penjual ATK keliling untuk dijual di Aceh Selatan dengan harga Rp 300.000/lempeng (standar kantor Pos), dan sebagian kecil dari materai tersebut sudah laku dijual ke masyarakat di Kotafajar, Kecamatan Kluet Utara dan Kecamatan Meukek,” ungkap Kapolres Aceh Selatan.

Diakui oleh Hendra ia kenal dengan Tiar sejak empat bulan yang lalu melalui telpon seluler, dan sekitar sebulan yang lalu kenal dengan tersangka Mhd Heru Auliya. Selanjutnya mereka saling berkomunikasi tentang materai tersebut dan kemudian tersangka Hendra Pangaribuan memesan materai tersebut dari tersangka Tiar.

Kapolres mengakui, jika dilihat secara kasat mata sanggat sulit membedakan antara materai asli dengan yang palsu. Sebab materai palsu itu memililki bentuk dan kemiripan dengan materai yang asli. Namun setelah dikonfirmasi dengan pihak Kantor Pos Tapaktuan selaku pihak yang lebih ahli dan mengerti tentang keaslian materai tersebut, baru diketahui bahwa materai tersebut palsu.

Alibat perbuatannya itu, kedua tersangka yang saat ini berhasil diamankan di Mapolres Aceh Selatan dijerat dengan perkara tindak pidana pemalsuan materai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 UU No 13 tahun 1985 tentang Bea Materai Jo Pasal 257 KUHPidana dengan ancaman hukuman enam tahun kurungan penjara atau denda Rp 1.750.000.000.

Untuk mencegah jadi korban materai palsu, masyarakat diimbau untuk membeli langsung materai di Kantor Pos. Rika Fahrani, Pegawai Kantor Pos Tapaktuan yang ditugaskan untuk melakukan pengecekan materai palsu itu, menyarankan kepada masyarakat agar benar - benar teliti dan cermat saat membeli materai di Toko ATK. Menurutnya masyarakat bisa membedakan materai asli dan materai palsu, sebab dari corak dan warna materai asli dan palsu sudah bisa dibedakan. “Lihat dari warnanya, yang asli lebih kasar sedangkan yang palsu lebih halus. Dekikian juga dengan kualitas kertas yang digunakan, kertas materai asli lebih tebal sedangkan yang palsu lebih tipis dan lembek,” jelasnya.(tz)

Editor : bakri