Prohaba.co
Berjudi, Pasutri Nonmuslim Memilih Dicambuk
Rabu, 28 Februari 2018 12:06 WIB
* Turis Malaysia Ikut Saksikan Proses Cambuk

BANDA ACEH - Pasangan suami istri asal Banda Aceh, Dahlan Silitongga (61) dan Tjia Hyuk Hwa alias Sulus (45), yang beragama kristen terbukti melanggar qanun jinayah pasal 18 ayat (1) tentang Maisir (judi). Meskipun mereka tidak dijerat dengan hukum syariat Islam, tapi keduanya memilih diganjar dengan hukuman cambuk sesuai dengan syariat Islam.

Keduanya menjalani hukuman cambuk bersama tiga terpidana lainnya di di halaman Masjid Babussalam, Lampaseh Aceh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Selasa (27/2). Seharusnya, karena keduanya beragama kristen, mereka hanya dijerat hukuman nasional dengan hukuman penjara, tapi dalam proses hukumnya mereka memilih menundukkan diri kepada hukuman syariat dan bersedia dicambuk.

Akhirnya, Dahlan dikenakan hukuman cambuk enam kali, sedangkan Sulus menjalani tujuh kali cambukan. Perbedaan itu karena sebelumnya, pasangan ini menjalani masa tahanan dalam durasi waktu yang berbeda.

Selain itu, kemarin juga ikut dicambuk Ridwan MR sebanyak 19 kali cambukan, ia terbukti sebagai penyelenggara judi di tempat permainan anak-anak, sedangkan Dahlan dan Sulus merupakan orang yang bermain judi. Setelah itu, algojo juga mengeksekusi cambuk pasangan yang terbukti Ikhtilat (bermesra-mesraan) yaitu Muzakkir dan Cut Hasmidar, masing-masing 23 kali cambukan.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman kemarin mengatakan, bahwa kedua warga non muslim memilih atas kesadaran sendiri untuk tunduk kepada hukum syariat Islam dan siap menjalani hukuman cambuk. Padahal, kata Aminullah, saat diproses hukum, keduanya dapat memilih hukuman pidana, tapi dalam proses hukumnya memilih hukuman cambuk sesuai dengan syariat Islam. Akhirnya, jaksa mengajukan mereka ke Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh.

Pada kesempatan itu, Aminullah mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menegakkan Syariat Islam di Banda Aceh. Mulai dari petugas yang menangkap, jaksa yang memproses kasusnya, sampai dengan pelaksana uqubat cambuk bagi para pelanggar syariat. “Kami juga mengharapkan masyarakat untuk segera melaporkan kepada polisi atau Satpol PP/WH via call center 081219314001 jika melihat ada pelanggaran syariat yang terjadi di lingkungan masing-masing. Petugas kita akan segera datang untuk mengamankan pelakunya,” harap Aminullah.

Hal lain yang menarik dari uqubat cambuk di halaman Masjid Babussalam kemarin, yaitu hadirnya sejumlah wisatawan dari Terengganu, Malaysia. 27 wisatawan yang sedang berwisata di Banda Aceh mengaku tertarik menyaksikan proses uqubat cambuk terhadap pelanggar syari’at Islam itu.

Salah-satu tamu dari Negeri Jiran itu, Ramli Nuh memberikan apresiasi kepada pemerintah yang memiliki komitmen kuat menjalankan pelaksanaan Qanun Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayah di Banda Aceh.

Menurutnya, proses uqubat cambuk bagi pelanggar syariat Islam dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain. Sehingga menjadi sarana sosialisasi yang baik agar kedepannya tidak terjadi lagi pelanggaran. Katanya, di Terengganu Qanun penegakan syari’at Islam telah ada dari tahun 2003. Tapi, dirinya mengaku kecewa karena pelaksanaannya belum berjalan dengan baik.(mun)

Editor : bakri