Prohaba.co
Empat Wanita Asal Aceh Sembunyikan Narkoba di Sandal
Senin, 30 Oktober 2017 15:50 WIB
* Ditangkap di Hotel

MEDAN – Polsek Medan Helvetia menangkap empat wanita asal Peudada, Bireuen, yang menjadi kurir narkoba, Sabtu (28/10) malam. Polisi menyita empat kilogram sabu-sabu yang disembunyikan pelaku di sandal.

Para tersangka FI (36), DA (38), N (45) dan Y (20) ditangkap saat berada di Hotel Merlin, Medan. Keberadaan mereka sudah diintai polisi sejak Sabtu (28/10) siang, menyusul adanya informasi keberadaan sindikat penyelundup narkoba asal Aceh tujuan Jambi.

Kanit Reskrim Polsek Medan Helvetia Iptu Rusdi Marzuki mengatakan, dalam laporan itu disebutkan keempat pelaku merupakan wanita. “Pelaku hanya transit di Medan, karena tujuan mereka ke Jambi,” kata Rusdi, Minggu (29/10).

Setelah bukti dinilai sudah cukup, polisi pun langsung menggerebek kamar yang dihuni pelaku. Menurut Rusdi, operasi ini sempat terancam berakhir gagal karena dalam penggeledahan tidak ditemukan barang bukti. Dan selama pemeriksaan di dalam kamar hotel, keempat pelaku berkelit dari tuduhan polisi dan memastikan mereka sebagai wisatawan dari Aceh.

Namun pengakuan itu akhirnya terbantahkan setelah seorang petugas curiga melihat empat pasang sandal wanita berhak tinggi di dalam kamar. Sandal itu cukup mencurigakan karena berukuran sama dan terlihat baru. “Sandal itu berukuran sama, padahal postur pelaku berbeda. Ini jelas ganjil,” lanjut Rusdi.

Ternyata pelaku sudah memodifikasi sandal itu sebagai tempat penyimpanan sabu-sabu. Dari tapak sandal ditemukan delapan bungkus sabu-sabu berat total satu kilogram. Para pelaku kemudian mengaku sebagai kurir yang diperintahkan seseorang di Bireuen untuk membawa sabu-sabu itu ke Jambi. Bila berhasil mengemban misi itu, keempatnya dijanjikan upah Rp 3 juta. “Masing-masing pelaku dijanjikan tiga juta. Otak pelaku kejahatan ini masih kami kejar,” beber Rusdi.

Polisi menduga keempat pelaku sudah beberapa kali terlibat penyelundupan narkoba ke berbagai provinsi di Indonesia. Komplotan pelaku diyakini sengaja menggunakan wanita dalam jumlah besar sebagai upaya menghindari kecurigaan petugas. “Mereka selalu berdalih sebagai wisatawan. Makanya jumlahnya sampai empat orang,” tutup Rusdi.(mad)

Editor : hasyim