Prohaba.co
Polisi Ciduk Napi LP Tanjung Gusta
Selasa, 29 November 2016 15:28 WIB
* Terlibat Peredaran Narkoba Antarpulau

MEDAN - Polres Deliserdang mengamankan seorang narapidana LP Tanjung Gusta, karena terindikasi terlibat peredaran narkoba lintas pulau. Polisi memastikan masih ada pelaku lain yang sedang dalam pengejaran, beberapa di antaranya berada di Makassar, Sulawesi Selatan.

Kapolres Deliserdang AKBP Robert Da Costa, Senin (28/11) memaparkan, ada tiga tersangka yang mereka tangkap dalam operasi pemberantasan narkoba ini. Salah satu pelaku di antaranya dari balik jeruji LP Tanjung Gusta atas nama Sandi Kelana. Sementara dua tersangka lain Selamet dan Amin Fauzi.

Penangkapan tiga tersangka ini menurutnya hasil pengembangan atas tersangka MF (28) yang ditangkap di Bandara Kualanamu, Deliserdang, Senin (21/11) lalu. “Dari pengembangan tersangka MF, kita menangkap tiga tersangka baru. Satu merupakan narapidana, kita amankan dari LP Tanjung Gusta,” kata Robert.

Dijelaskannya, para pelaku yang saat ini sudah mereka tahan hanya berstatus sebagai kurir dan penghubung. Artinya masih ada pelaku lain yang memiliki peran lebih besar. Dari pemeriksaan sejauh ini, polisi sudah mengantungi tiga nama baru yang kini dalam proses pengejaran. “Ada tiga nama yang sedang kita kejar. Dua di antaranya berada di Makassar,” jelasnya.

Ada indikasi pelaku yang diduga berada di  Makassar juga berstatus narapidana. Polisi masih mendalami informasi ini dengan membangun komunikasi dengan Polda Sulawesi Selatan. “Ada komunikasi antar LP di sini dengan Makassar. Kami sudah meminta bantuan Polda Sumut untuk berkordinasi dengan Polda Sulawesi Selatan,” bebernya.

Pada edisi Senin (21/11), Prohaba memberitakan penangkapan M Fitra (28) warga Jalan Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan saat berada di terminal keberangkatan domestik Bandara Kualanamu, Deliserdang. Diketahui dia merupakan calon penumpang Lion Air JT 970 tujuan Makassar, Sulawesi Selatan. Dari tangannya disita sabu-sabu 952 gram yang disimpan di dalam tas.

Dari pengakuannya ketika itu, ia dijanjikan upah Rp 30 juta, namun baru menerima Rp 1 juta. Kekurangan upah itu akan dilunasi bila tersangka berhasil melaksanakan misi ilegal tersebut.(mad)

Editor : bakri