Prohaba.co
Polisi Tangani Kisruh Meunasah Dusun Teungoh
Selasa, 7 Juni 2016 13:21 WIB
* Tiga Orang Sempat Dilarikan ke Rumah Sakit

BIREUEN - Kepolisian Resort (Polres) Bireuen, saat ini sedang menangani kisruh yang terjadi di Meunasah Dusun Teungoh Gampong Juli Keudee Dua Kecamatan Juli Bireuen. Kedua kubu yang bertikai di meunasah dusun itu, juga telah membuat pengaduan ke polisi.

Kapolres Bireuen, AKBP Heru Novianto SIK melalui Kasat Reskrim AKP Syamsul SH menerangkan, insiden di Desa Juli Keude Dua tersebut telah ditangani pihaknya. Kedua belah pihak juga sama-sama sudah membuat laporan ke Mapolres.

Sejauh ini pihak polisi masih mengumpulkan data-data di lapangan dan keterangan saksi-saksi. “Untuk mencegah terjadinya bentrokan susulan, pihaknya tetap berjaga-jaga di lokasi kejadian, serta masih mengumpulkan keterangan saksi-saksi untuk pengembangan lebih lanjut,” kata Kapolres.

Sumber sumber Prohaba di lapangan menyebutkan, insiden dalam meunasah sesaat magrib itu dipicu oleh hal sepele. Pihak penyerang yang yang mengklaim diri sebagai pengurus meunasah, berang dengan tindakan korban Edi warga Gampong Juli Keudee yang azan marib di meunasah, tanpa seizin mereka.

Pihak penyerang yang terdiri atas ayah dan anak (Tgk Saifuddin dan Hilman) serta berabat mereka merangsek ke meunasah, saat Edi sedang azan. Lalu ayah dan anak itu mendorong Edi yang sedang azan. Belakangan, amuk itu diteruskan kepada Imam Meunasah Desa Juli Keude Dua, Tgk Ramlan Thaleb dan wakil imam Yahya Ibrahim, yang datang ke meunasah bersama Edi. Belakangan Edi yang telah selesai azan tak bisa menahan emosi, hingga terlibat baku pukul dengan Hilman dan ayahnya Tgk Saifuddin. Singkat cerita, tiga orang akhirnya dirawat di rumah sakit, paska kejadian itu, yakni Edi, Hilman dan Tgk Saifuddin.

Sumber sumber lain menyebutkan, surau yang terletak di Dusun Teungoh Desa Juli Keude Dua itu, selama ini dikuasai oleh sekelompok masyarakat yang melaksanakan shalat berjamaah di meunasah tersebut.

Namun pada Minggu (5/6) magrib, Edi Saputra bersama Imam Meunasah Desa Juli Keude Dua, Tgk Ramlan Thaleb dan wakil imam Yahya Ibrahim, ingin melaksanakan shalat magrib berjamaah di surau tersebut, sekaligus melaksanakan shalat insya serta tarawih berjamaah. Namun sebelum shalat magrib dilakukan, insiden pun terjadi, sehingga shalat magrib berjamaah, insya dan terawih pun tidak dapat dilaksanakan di surau tersebut.

Edi Tansil mengatakan, awalnya ia bersama pak imam dan wakil imam mengaji di surau sebelum waktu tibanya shalat magrib. Saat tiba waktunya shalat magrib, Edi Tansil dipersilakan oleh imam untuk melaksanakan azan magrib. Namun saat Edi sedang azan magrib lewat pengeras suara, tiba-tiba datang Hilman dan ayahnya Tgk Saifuddin serta keluarganya mendorong Edi Tansil yang sedang azan dalam surau. “Meskipun saya didorong oleh orang itu saat sedang azan, saya tidak meperdulikannya dan tetap melanjutkan azan magrib hingga selesai,” kata Edi Tansil.

Lanjut Edi, saat ia melanjutkan azan, tiba-tiba Hilman dan keluarganya mendorong wakil imam yang masih ada dalam meunasah. Sedangkan pak imam sudah keluar dari meunasah. Usai melaksanakan azan, Edi pun berusaha membela wakil imam. Tapi saat ia membela wakil imamnya, Edi pun dipukul di kepalanya dari belakang hingga luka dan mengeluarkan darah.

Dalam kondisi terluka, Edi berusaha membela diri dan membalasnya. Sehingga Hilman dan ayahnya Tgk Saifuddin juga ikut terkena bogem mentah, dan ketiganya harus dilarikan ke RSUD dr Fauziah.

Hal itu juga diakui Imam Meunasah Desa Juli Keude Dua, Tgk Ramlan Thaleb dan wakil imam Tgk Yahya Ibrahim. “Tangan kanan saya sakit saat berusaha membela diri dari dorongan kelompok itu,” kata Tgk Yahya Ibrahim.

Beberapa saat setelah kejadian, warga Desa Juli Keude Dua bersama anggota Polsek Juli dan Polres Bireuen, turun ke lokasi kejadian untuk meredam suasana.

Sementara itu, menurut keterangan Tgk Saifuddin, kejadian itu bermula saat Edi datang ke surau untuk melaksanakan azan magrib. Namun pihaknya tidak mengizinkannya, karena azan tanpa izin dari pengelola surau. Sehingga bentrok fisik pun terjadi dan berujung ke rumah sakit. “Awalnya datang tiga warga yakni Edi Tansil, imam dan wakil imam Meunasah Keude Dua, lalu Edi azan tanpa minta izin dari kami, seandainya diminta secara baik-baik untuk azan pastinya kami kasih, sehingga saling dorong mendorong dan terjadi ribut hingga ricuh,” kata Tgk Saifuddin saat ditemui wartawan dan polisi di RSUD dr Fauziah.(c38)  

Editor : hasyim