Prohaba.co
Intel Gadungan Sekap Wanita Aceh
Selasa, 26 April 2016 16:13 WIB
* Gara-gara Utang Piutang

Jakarta - Tiga orang pelaku penyekapan terhadap seorang perempuan asal Aceh, Rizayati (31), ditangkap tim Unit IV Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Ketiga pelaku itu kini diperiksa intensif di Markas Polda Metro Jaya. “Para pelaku menyekap korban di sebuah penginapan di Jl Gunungbalong, Lebak Bulus, Tangerang Selatan selama satu malam,” ujar Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Herry Heryawan, Senin (25/4).

Herry menambahkan, kasus ini dilaporkan oleh suami korban, Imran Hamid (46), ke Polda Metro Jaya pada Sabtu (23/4) malam. “Korban dibawa dari rumahnya di hadapan suaminya,” imbuh Herry. Ketiga pelaku yang juga dari Aceh yakni Bantaka alias Agam (37), Dedi Sofyan (46), dan Munir Hasan (36). Ketiganya ditangkap polisi di tempat penyekapan dan dikontrakan pelaku di Jl Lobak II Pondok Cabe, Jakarta Selatan pada Minggu (24/4) siang.

Dijelaskan dia, peristiwa terjadi pada Sabtu (23/4) seusai Magrib. Korban yang saat itu bersama suaminya, didatangi oleh para pelaku di rumah kontrakan mereka di Jl Cipulir No 3 RT 6/08 Kel Cipulir, Kebayoran Lama, Jaksel. “Nah, para pelaku kemudian datang mengaku intel. Kemudian meminta korban untuk mengemasi barang untuk ikut ke Polsek,” ujarnya.

Sekitar pukul 21.30 WIB, korban kemudian dibawa para pelaku naik mobil Toyota Avanza hitam. Selama perjalanan, korban diminta pelaku bernama Agam untuk membayar utang Rp 75 juta. “Kemudian korban dibawa ke sebuah penginapan di Jl Gunungnalong Raya, Lebak Bulus,” ungkapnya.

Dua orang pelaku ditangkap di tempat penyekapan di Jl Gunungbalong Lebak Bulus. Sementara tersangka Agam ditangkap dikontrakannya di Jl Lobak II Pondok Cabe, Jakarta Selatan. Barang bukti yang diamankan polisi dari para pelaku yakni 1 motor dan 1 unit mobil Toyota Avanza berplat D 1677 TG yang disewa para pelaku.

Hasil pengembangan polisi, motif penyekapan wanita Aceh itu ternyata tersangkut utang-piutang dengan salah satu pelaku bernama Munir. Korban rupanya menjanjikan pelaku bisa memasukkan PNS (Pegawai Negeri Sipil) lewat jalur khusus dengan bayaran sejumlah uang. “Motif penyekapan ini dilatarbelakangi masalah tersangka Munir terkait utang-piutang dengan korban. Ternyata, permasalahannya ini dengan orang lain, J dan korban (Rizayati) ini cuma mengenalkan saja,” papar AKBP Herry Heryawan.

Herry menambahkan, korban memiliki utang sebesar Rp 45 juta kepada tersangka Munir. Sementara korban baru membayar Rp 15 juta. “Uang yang diserahkan oleh pelaku ke korban untuk masuk PNS itu sebesar Rp 45 juta dan sudah dibayar (diganti-red) sebagian oleh korban. Tetapi saat membawa korban dari rumah kontrakannya, pelaku meminta Rp 75 juta,” tambahnya.

Oleh sebab itu, Herry mengimbau kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalah utang-piutang tanpa melanggar pidana. “Kalau merasa tertipu, sebaiknya melaporkan ke aparat polisi. Jangan malah melakukan pidana,” imbau Herry.

Ditemui di ruangannya, Kanit IV Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Stialanri K Setinggar menambahkan, korban awalnya menjanjikan untuk membantu tersangka Munir memasukkan keponakannya jadi PNS dengan imbalan sejumlah uang. “Kata si Munir ini, korban bisa ngebantu masuk PNS, kemudian korban meminta menyediakan Rp 45 juga. Tapi ternyata enggak bisa, sehingga dia menagih kembali uangnya yang sudah disetor ke korban,” ujar Stialanri.

Penyerahan uang dari Munir kepada korban, sebut dia, berlangsung di Aceh. Korban dan pelaku diketahui sama-sama berasal dari Bireuen. Karena merasa telah tertipu oleh korban, Munir kemudian mengajak  temannya Agam dan Dedi untuk membawa korban dari rumah kontrakannya di Jl Gunungbalong, Lebak Bulus, Jakarta Selatan pada Sabtu (23/4) malam. Alih-alih meminta uang Rp 45 juta, korban malah diminta menyerahkan uang sebesar Rp 75 juta. “Yang minta 75 juta itu si Agam bukan Munir, alasannya karena korban menjanjikan akan membayarkan utang korban yang lain,” tukasnya.(dtc)

Editor : bakri