Prohaba.co
Warga Aceh Danai Pembuatan Uang dan Dokumen Palsu
Selasa, 7 April 2015 15:45 WIB
MEDAN - Polresta Medan memburu seorang warga Aceh karena terindikasi mengotaki proyek pembuatan uang dan sejumlah dokumen palsu. Sejauh ini polisi sudah meringkus empat pelaku yang terlibat dalam sindikat kejahatan tersebut.

Amsar yang disebut-sebut berasal dari Aceh resmi menjadi buronan setelah empat anak buahnya diringkus polisi. Masing-masing tersangka, Irwan Charli (29) warga Medan Helvetia, Boby Chandra (40) penduduk Binjai, serta Amri Yusrizal (37) dan Sukardi (40) asal Deliserdang diringkus dalam penyergapan terpisah.

Awalnya polisi menangkap Irwan Charli di sebuah rumah makan di Jalan Sekip, Medan Petisah, awal bulan lalu atas tuduhan pengedaran uang palsu. Dari pengakuan dia, polisi langsung bergerak ke Binjai untuk meringkus tiga tersangka lainnya.

Wakapolresta Medan AKBP Yusuf Hondawan Naibaho menuturkan dari kelompok ini disita uang pecahan Rp 50 ribu terdiri dari 300 lembar siap edar, dan 152 lembar yang baru siap cetak atau belum dipotong. Dari lokasi itu ditemukan juga dua lembar STNK palsu, dan selembar BPKB. Temuan dua buah dokumen ini memunculkan dugaan komplotan ini juga memalsukan berbagai produk terbitan negara. “Jadi bukan hanya uang. Untuk saat ini sudah didapati barang bukti STNK dan BPKB. Ini mengharuskan kita menyelidikinya lebih dalam untuk mengetahui apa-apa saja yang pernah dipalsukan,” kata Yusuf di Mapolsek Medan Helvetia, Senin (6/4).

Yusuf mengatakan aktivtas kelompok ini didanai Amsar, seorang pria asal Aceh. Amsar kini menjadi buronan bersama pelaku lainnya, Idris Bangun. Idris yang merupakan pecatan TNI sudah sempat diringkus beberapa waktu lalu, namun meloloskan diri saat hendak diamankan ke Mapolsek Medan Sunggal. Kedua orang ini kini menjadi buruan serius polisi, terlebih diketahui Idris masih menyimpan uang palsu dan diyakini sudah disebarkan sebagian.

Hasil penyidikan mengungkapkan kejahatan ini sudah berlangsung dua bulan. Amsar menyerahkan dana operasional kepada Boby yang dipercaya sebagai pendesaian sekaligus pencetak uang. Biasanya Boby diberi upah Rp 5 juta untuk setiap pengerjaan mencetak uang pecahan Rp 50 ribu sebanyak Rp 50 juta. Selanjutnya seluruh uang palsu itu diserahkan Boby kepada rekan-rekannya untuk diedarkan. “Tapi mereka mengaku hanya digunakan sendiri. Biasanya dibelanjakan di warung kecil pada malam hari,” beber Yusuf.

Yusuf menambahkan, penyelidikan kasus ini diarahkan pada pergerakan kelompok tertentu di Aceh. Tidak tertutup kemungkinan uang hasil kejahatan ini mengalir ke kelompok untuk pergerakan negatif. “Kita selidiki apakah A (Amsar) itu ada hubungan dengan kelompok itu,” kata Yusuf.(mad)


Editor : bakri