Prohaba.co
Sumut - Aceh Sepakat Berantas Pungli
Jumat, 20 Februari 2015 16:24 WIB
MEDAN - Pemerintah Sumut dan Aceh mencapai kesepakatan dalam beberapa hal menyangkut masalah di perbatasan. Salah satu poin terpenting ialah adanya kesepahaman memberantas pungutan liar yang selama ini dialami kendaraan berplat BL. 

Kesepakatan ini dicapai setelah seluruh SKPD kedua provinsi, termasuk kapolda melakukan pertemuan di Mapolda Sumut, Rabu (18/2). Dalam hal ini Aceh mengutus Sekda Dermawan, Kapolda Irjen Husein Hamidi, Kasdam Iskandar Muda Brigjen Rudi Polandi, anggota DPRA Abdullah Saleh dan seluruh bupati yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Sumut. Sejak awal, pertemuan ini menjadikan kasus pungli oleh oknum polisi di Sumut terhadap kendaraan plat BL sebagai topik utama. Sejumlah pejabat Aceh yang hadir pun menceritakan pengalaman mereka yang turut diperiksa petugas ketika melintas di kawasan Langkat. “Tadi pagi ketika mau kemari (Polda sumut), mobil saya pun distop. Padahal saya naik mobil dinas BL 5 U. Inikan sangat berlebihan,” kata Wakil Bupati Aceh Tamiang Iskandar Zulkarnain.

Belakangan terungkap Kasdam IM Brigjen Rudi Polandi dan Kapolda Aceh Irjen Husein Hamid pun tak luput dalam pemeriksaan ini. Rudi menilai pemeriksaan yang terkesan berlebihan itu hanya kenakalan oknum. Menurut pandangannya ada anggota yang salah menerjemahkan perintah atasan. 

Sementara Husein Hamid mengakui pemeriksaan yang dialaminya menyalahi prosedur. Petugas tersebut mengenakan jaket, sehingga identitasnya tidak terlihat. ‘Dia pakai jaket dan malam hari. Ketika itu saya masih wakapolda,” kata Husein. 

Direktur Lantas Polda Sumut Kombes Refdi Andri berdalih pemeriksaan ketat di jalur perbatasan dilakukan untuk menciptakan keamanan dan ketertiban. Tujuan awal operasi itu untuk mencegah masuknya barang ilegal, terutama narkoba. Ia menampik pihaknya melakukan diskriminasi terhadap BL, karena sesuai data yang dimilikinya kendaraan yang diamankan justru kebanyakan berplat BK. “Ini ada datanya pak, kebanyakan BK yang diamankan,” kata Refdi sembari menunjukkan rincian kasus di layar proyektor. 

Karo Ops Polda Sumut Kombes Tabana Bangun menambahkan, penyelundupan narkoba memang menjadi perhatian utama pihaknya. Sejauh ini tercatat 66 kasus penyelundupan narkoba dari Aceh yang berhasil digagalkan. Umumnya barang bukti yang disita berjumlah besar. 

Terkait maraknya kasus pelemparan bus asal Aceh, kedua perwira menengah ini mengaku sama-sama sudah menanganinya. Tabana mengungkapkan ada banyak motif, salah satunya persaingan bisnis. Persaingan ini pun bisa terjadi sesama bus umum Aceh, atau dengan sopir angkot. 

“Jadi ternyata ada bus dari Aceh yang melayani jarak pendek. Misal dia mengangkut penumpang dari Stabat dan turunnya di Binjai. Ini berdampak bagi angkutan lokal. Sehingga diciptakan ketidaknyamanan dengan melempar,” katanya.

Alasan lain disebabkan perbedaan kualitas jalan yang sangat signifikan antara Aceh dengan Sumut. Di Aceh, menurutnya lebar jalan 12 meter dengan kondisi jalan mulus dan rata. Kondisi ini membuat sopir nyaman memacu kendaraannya. 

Ketika masuk Sumut, kualitas jalan menurun drastis karena hanya selebar enam meter. “Tapi kecepatan bus tidak berkurang, karena ada desakan dari penumpang yang ingin tiba di Medan pukul enam. Jadi sepanjang jalan banyak yang terganggu, termasuk sepeda motor yang goyang ketika didahului atau berpapasan. Ini termasuk berujung pada pelemparan,” beber Tabana. 

Di akhir pertemuan, Kapolda Sumut Irjen Eko Hadi Sutedjo kemudian menyetujui usulan Kombes Refdi untuk mendirikan pos terpadu di jalur perbatasan. Pos ini akan diisi petugas gabungan dari Polda Aceh, Polda Sumut, termasuk TNI. Pos ini juga akan berfungsi menerima pengaduan pengemudi yang merasa diperas petugas. “Mengadunya kemana, ya bisa di keduanya. Pos yang di Aceh boleh, yang di Sumut juga boleh,” tandasnya. 

Kapolda Aceh Husein Hamid pun menyambut gembira dengan kesepakatan ini. Ia berharap kesepakatan ini permanen, sehingga masyarakat Aceh yang berkunjung ke Sumut bisa berkendara dengan nyaman. “Dari laporan, biasanya razia dilakukan satu dua orang. Kesalahan dicari-cari, seperti pentil ban, racun api, kotak obat. Kalau bisa dimaafkan, ya maafkanlah. Karena mereka (warga Aceh) juga memakmurkan Sumut,” papar Husein. (mad)


Editor : bakri