Prohaba.co
Menantunya Ditahan Polisi, Mertua Ini Meninggal Karena Syok
Kamis, 15 Januari 2015 18:20 WIB

PROHABA, MEDAN - Rikki bin Mustafrin dan Husaini bin Ali Yusuf, dua dari 10 terdakwa kelompok Tgk Barmawi ternyata memiliki ikatan keluarga. Kabar penangkapan keduanya membuat ibu mertua mereka syok, dan akhirnya meninggal dunia. 

Peristiwa itu dibeberkan Rikki ketika membacakan pleidoi di hadapan majelis hakim PN Medan, Kamis (15/1/2015) siang. Rikki didakwa telah menyimpan senjata api dan bahan peledak secara ilegal dan dituntut dua tahun penjara. 

Dalam pembelaan itu, Rikki memastikan dirinya tidak pernah terlibat kasus apapun terkait keberadaan senjata api AK 101 di kediamannya. Senjata itu menurutnya titipan Husaini, yang tak lain adik iparnya yang juga anggota polisi. 

"Dia adik ipar saya. Istri dia adik istri saya," kata Rikki.

Menurutnya, senjata itu dititipkan Husaini pada Maret 2014. Rikki langsung memenuhi permintaan itu, karena ia tidak menaruh curiga apapun. Ia memiliki dua alasan untuk menerima titipan itu, yakni Husaini merupakan adik iparnya, dan berstatus anggota polisi. 
"Di zaman konflik, kami warga sipil tahunya anggota polisi memang punya senjata. Saya tak tahu ternyata ada istilah senjata ilegal," kata Rikki. 

Ayah dua anak ini sempat menangis ketika menceritakan kondisi keluarganya, pasca-dirinya ditangkap. Selain menanggung rindu terhadap buah hatinya, Rikki juga mengungkapkan kalau penangkapan dirinya bersama Husaini menyebabkan penyakit ibu mertuanya kambuh. Belakangan sang ibu meninggal dunia pada 29 November 2014. 

"Beliau syok. Karena dua menantu laki-lakinya ditangkap bersamaan," tandasnya. 

Dalam kesempatan itu, ia membantah keterangan saksi yang melihatnya naik sepeda motor sembari memangku senjata api menuju rumah Tgk Bar. Hal itu dinilainya sangat tidak masuk akal, karena posisi rumah Barmawi berada di depan markas TNI. Aksi itu menurutnya tindakan bunuh diri, karena dengan mudah senjata yang dipangkunya itu terlihat petugas TNI yang berjaga 24 jam di pos. Keterangan lain yang dibantahnya mengenai pengakuan saksi yang mengaku mengenal adiknya bernama Fadil. 

"Saya tidak punya adik laki-laki bernama Fadil. Saya anak kedua dari empat bersaudara. Dua adik saya perempuan," ujarna sembari terus menangis. 

Atas segala alasan itu, Rikki pun meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman seringan-ringannya. "Saya tidak akan mengulangi kebodohan saya. Ini semua karena saya bodoh, tidak mengerti hukum dan Undang-undang," ujar Rikki. 

JPU Kejari Tapaktuan Eka Mulya Putra mengajukan replik atas isi pleidoi itu. Namun Eka menyatakan replik tidak akan dibacakan, melainkan dilakukan tertulis. Majelis hakim yang diketuai H Aksir kemudian menunda sidang pada Rabu (21/1). (mad)


Editor : ariframdan