Prohaba.co
Lima Murid SD Jadi Tersangka Preteli Siswi
Sabtu, 24 Mei 2014 12:19 WIB
BIREUEN – Lima murid salah satu SDN di Kecamatan Peusangan Selatan, Bireuen ditetapkan sebagai tersangka yang mempreteli dua siswi sekelas yang terjadi 5 Mei lalu di rumah sekolah itu.

Kapolres Bireuen, AKBP M Ali Khadafi SIK melalui Kasat Reskrim AKP Jatmiko SH, Jumat (23/5) mengatakan, hasil pemeriksaan korban, keterangan saksi dari murid sekolah serta seorang seorang guru, Polres Bireuen, Jumat kemarin, menetapkan lima murid SD itu sebagai tersangka, walaupun masih di bawah umur.

Kelima bocah laki laki itu telah dipanggil melalui orangtuanya untuk membawa mereka ke Polres Bireuen. “Kami sudah melayangkan surat panggilan kedua, tapi hingga saat ini belum dibawa,” katanya.

Selain itu, tim penyidik juga akan memanggil kepala sekolah dan guru lainnya untuk mencari informasi tambahan menyangkut kelakuan kelima murid yang diduga nakal itu.

Kasat Reskrim menambahkan, kedua korban saat ini dalam keadaan sehat dan sekolah seperti biasa, namun kondisi psikologis keduanya terganggu dan merasa trauma.  

Sementara itu, Kabid Dikdas Dinas P dan K Bireuen, Abdullah S Pd, kemarin mengatakan, pihak sekolah terdiri dari kepala sekolah, guru dan kepala UPTD kecamatan itu sedang melakukan upaya penyelesaian secara kekeluargaan terhadap kasus tersebut. “Kepala SDN setempat sudah ke rumah kedua korban untuk melakukan musyawarah dalam kasus 7 Mei lalu,” katanya.

Sebagaimana diberitakan kemarin, lima murid kelas IV salah satu SD di Peusangan Selatan dilaporkan ke polisi oleh dua orang tua siswi yang anaknya mengaku jadi korban kenakalan menjurus pelecehan seks oleh lima orang rekan satu kelasnya. Kedua siswi itu mengaku dipreteli oleh lima bocah yang ternyata murid tinggal kelas tersebut.

 Bukan hanya tanggungjawab sekolah 
Sementara Kadis P dan K Bireuen, Drs Nasrul Yuliansyah M Pd, secara terpisah, kemarin mengharapkan orang tua, masyarakat serta guru untuk lebih ketat mengawasi siswanya agar tidak terjadi tindakan negatif atau melakukan perbuatan melanggar hukum.

Katanya adalah tanggungjawab kepala sekolah memenej lembaga pendidikan, mengatur proses pendidikan maupun kedisiplinan murid dan guru.

Sementara pengawasan prilaku siswa usai sekolah menjadi tanggunjawab utama orang tua murid jauh lebih penting apalagi bila ada siswa yang diduga nakal. “Kasus yang terjadi di SD Peusangan Selatan, hendaknya menjadi pelajaran bagi semua sekolah dan komite, orang tua agar sama-sama memantau prilaku murid, sehingga tidak terjadi tindakan negatif sesama mereka atau orang lain melakukan tindakan negatif bagi murid.”(yus)

Editor : hasyim