Prohaba.co
Diancam Warga, Polisi Tidak Tahan Tersangka Bentrokan
Kamis, 2 Januari 2014 13:10 WIB
MEDAN - Polres Tapanuli Selatan (Tapsel) menetapkan 40 tersangka bentrokan antardesa di Kecamatan Batangangkola, Tapsel. Namun karena ada ancaman dari warga, tak satu pun tersangka ditahan.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Heru Prakoso menerangkan ke 40 tersangka itu merupakan bagian dari 65 orang yang diamankan pascabentrok pada Selasa (24/12). Mereka dituduh menyerang pemukiman di Dusun Adiannagoti, Kecamatan Sayurmatinggi, Tapanuli Selatan. Polisi mendata ada tujuh gubuk yang dibakar. Namun isu yang beredar, terdapat sebuah rumah ibadah yang turut terbakar dalam penyerangan itu.

“Ada pihak tertentu yang memanfaatkan situasi ini dengan menyebar isu gereja dibakar. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama. Provokatornya sudah ditangkap ini,” kata Heru di sela pengamanan malam tahun baru, Selasa (31/12) malam.

Sebagai antisipasi bentrokan yang lebih besar, Polres Tapsel langsung bergerak cepat hingga berhasil meringkus 65 orang. Namun penangkapan ini justru menimbulkan masalah baru, karena warga yang meminta para pelaku dibebaskan memblokir jalur lintas Sumatera selama 21 jam pada Rabu (25/12) lalu.

Dalam kesempatan itu Heru menjelaskan pihaknya memang kewalahan mengakhiri pemblokiran itu, karena akses jalan sudah tertutup antrean mobil yang terjebak. “Butuh 3,5 jam ke lokasi dengan berjalan kaki. Kita juga bernegosiasi dengan melibatkan muspida,” kata dia.

Dalam pertemuan itu, disepakati kalau 65 pelaku yang ditahan dibebaskan. Padahal dalam pemeriksaan lanjutan, penyidik sudah menetapkan 40 tersangka. Heru mengatakan pembebasan itu terpaksa dilakukan karena ada ancaman warga untuk memblokir akses satu-satunya ke Pulau Jawa itu kembali diblokir.

“Untuk menyelamatkan kepentingan umum yang lebih besar, permintaan itu dipenuhi. Tapi proses hukum tetap dilakukan dengan jaminan kepala desa dan keluarga masing-masing,” tandasnya.

Ia menambahkan, konflik antarwarga itu sudah berlangsung sejak 2006. Namun ia tidak merinci akar masalah konflik. Sementara isu berkembang, warga Batangangkola terpaksa menyerang warga pendatang di Sayurmatinggi karena menghuni kawasan hutan lindung. Keberadaan mereka di sana merusak aliran air yang semula jernih menjadi keruh.(mad)

Editor : bakri